Jika berbicara sejarah Kota Probolinggo hal itu tidak akan pernah lepas dari ingatan saya, saat pertama kerja di Bank Bukopin Cabang Probolinggo (sekarang alhamdulillah sudah bergabung dengan Pemkab Probolinggo sejak tahun 2006) dan dengan kesehatan yang sedang memburuk pada saat itu karena diserang cacar air yang sangat parah. Sejak menjejakkan kaki di kota Probolinggo pada tahun 2004 (tepatnya di daerah Dringu, red) sebenarnya tidak ada yang istimewa dengan kota ini, sama seperti puluhan kota lain yang pernah saya kunjungi dan lewati. Kota yang kecil, sepi dan agak sedikit kurang teratur lalu lintasnya (red: bahkan sampai saya buat postingan ini masih banyak warga Probolinggo yang tidak bisa membedakan warna lampu pengatur lalu lintas, karena mau yang menyala lampu warna kuning, warna hijau maupun warna merah, selalu di terjang alias seperti tidak ada fungsinya, mau bukti? silahkan datang ke kota Probolinggo). Namun sejarah kali ini bukan sejarah pribadi saya, melainkan sejarah pembentukan kota Probolinggo sejah ratusan tahun silam, yang tentu saja masih jauh dari kata sempurna, karena menurut teman saya yang orang sunda, “sampurna” hanya milik Allah dan tentu saja milik rokok (samp**rna).
Dibandingkan dengan kota-kota pesisir Jawa Timur lainnya seperti Surabaya, Tuban atau Gresik, maka Probolinggo relatif kurang Read the rest of this entry »